li

CERPEN MALIN KUNDANG 2000 DAN CERITA MALIN KUNDANG DALAM KAJIAN INTERTEKSTUAL

Senin, 19 November 20120 komentar



Abstrak
Tulisan ini mengkaji cerpen “Malin Kundang 2000” dan Cerita Malin Kundang secara intertekstual. Tujuan kajian intertekstual cerpen ini adalah untuk memberikan makna secara lebih penuh terhadap karya tersebut. Penulisan sebuah karya sering ada kaitannya dengan unsur kesejarahannya sehingga pemberian makna akan lebih lengkap jika dikaitkan dengan unsur kesejarahan tersebut. Metode intertekstual dalam analisis ini dilakukan dengan cara membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan teks-teks sastra yang menstransformasi dari teks yang lain yang merupakan teks hipogramnya. Dalam hal ini teks-teks cerpen mentransformasi teks cerita Malin Kundang.

Kata Kunci: analisis, teks sastra, intertekstual, transformasi, hipogram.

1. Pendahuluan
Kehadiran suatu karya sastra tidak dapat dipisahkan dari keberadaan karya-karya sastra sebelumnya, yang pernah direspon oleh sastrawan. Pengarang tidak semata-mata memproduksi karya, tetapi terlebih dahulu juga merespon sebuah karya. Dari proses resepsi pengarang memiliki langkah pijak untuk mereproduksi karya yang baru. Jadi, pengarang tidak berangkat dari kekosongan. Melalui karya terdahulu, pengarang mempelajari gagasan yang tertuang dalam karya itu, memahami konvesi sastranya, konvensi estetiknya, kemudian mentransformasikannya ke dalam suatu karya sastra.
Karya sastra kapan pun ditulis tidak mungkin lahir dari situasi kekosongan budaya (Teeuw, 1983:63). Sebuah karya sastra, baik puisi maupun prosa mempunyai hubungan sejarah antara karya sezaman, yang mendahuluinya atau yang kemudian. Hubungan sejarah ini berupa persamaan atau pertentangan. Dengan hal demikian ini, sebaiknya membicarakan karya sastra itu dalam hubungannya dengan karya sezaman, sebelum atau sesudahnya (Pradopo, 2003:167). Jadi, dalam menciptakan karya sastra pengarang juga tidak dapat melepaskan diri dari teks-teks sastra yang lain.
Karya sastra akan muncul pada masyarakat yang telah memiliki konvensi, tradisi, pandangan tentang estetika, tujuan berseni, dan lain-lain yang kesemuanya dapat dipan­dang sebagai wujud kebudayaan dan tidak mustahil sastra merupakan rekaman terhadap pandangan masyarakat tentang seni. Hal itu berarti bahwa sesungguhnya sastra merupakan konvensi masyarakat karena masyarakat menginginkan adanya suatu bentuk kesenian yang bernama sastra. Wujud konvensi budaya yang telah ada di masyarakat secara konkret antara lain berupa karya-karya yang ditulis yang diciptakan orang sebelumnya. Namun, ia dapat juga berupa cerita-cerita rakyat yang berwujud cerita lisan (folklore) yang mewaris secara turun-temurun (Nurgiyantoro, 1998:15).
Julia Kristeva dalam Nurgiyantoro (1998:15) menjelaskan bahwa tiap teks itu merupakan mosaik kutipan-kutipan dan merupakan penyerapan (transformasi) teks-teks lain. Maksudnya, tiap teks itu mengambil hal-hal menarik yang kemudian diolah kembali dalam karyanya, atau ditulis setelah melihat, meresapi, menyerap hal yang menarik, baik sadar maupun tidak sadar. Setelah menanggapi teks lain dan menyerap konvensi sastra, konsep estetik, atau pikiran-pikirannya, kemudian mentransformasikannya ke dalam karya sendiri dengan gagasan dan konsep estetik sendiri sehingga terjadi perpaduan yang baru. Konvensi dan gagasan yang diserap itu dapat dikenali apabila kita membandingkan teks yang menjadi hipogramnya dengan teks baru, yakni teks transformasi.
Cerpen “Malin Kundang 2000” karya Irwansyah Budiar Putra mengangkat tema tentang sifat durhaka yang mengakibatkan kutukan. Teks“Malin Kundang 2000” tersebut merupakan hipogram dari cerita Malin Kundang.
Pada dasarnya penelitian ini dilakukan dengan mengacu pada tataran penelitian diakronis, yang mencoba melakukan penelitian terhadap karya-karya lama yang dihubungkan dengan karya baru. Berkaitan dengan hal itu, teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori intertekstual.
2. Kajian Pustaka
2. 1 Intertekstual Karya Sastra
Secara luas intertekstual diartikan sebagai jaringan hubungan antara satu teks dan teks yang lain. Lebih dari itu teks itu sendiri secara etimologis (textus, bahasa Latin) berarti tenunan, anyaman, penggabungan, susunan, dan jalinan. Produksi makna terjadi dalam interteks yaitu melalui proses proposisi, permutasi, dan transformasi. Penelitian dilakukan dengan cara mencari hubungan-hubungan bermakna di antara dua teks atau lebih. Teks-teks yang dikerangkakan sebagai interteks tidak terbatas sebagai persamaan genre, interteks memberikan kemungkinan yang seluas-luasnya bagi peneliti untuk menemukan hipogram. Interteks dapat dilakukan antara novel dan novel, novel dengan puisi, novel dan mitos. Hubungan yang dimaksudkan tidak semata-mata sebagai persamaan, tetapi juga sebaliknya pertentangan, baik sebagai parodi maupun negasi (Ratna, 2004:173).
Mengenai keberadaan suatu hypogram dalam interteks, selanjutnya Riffaterre (Ratna, 2005:222) mendefinisikan hipogram sebagai struktur prateks, generator teks puitika lebih lanjut, Hutomo (Hartyanto, 2008, 2001:118) merumuskan hipogram sebagai unsur cerita (berupa ide, kalimat, ungkapan, peristiwa, dan lain-lain) yang terdapat dalam suatu teks sastra pendahulu yang kemudian teks sastra yang dipengaruhinya.
Teori intertekstual memandang bahwa sebuah teks yang ditulis lebih kemudian mendasarkan diri pada teks-teks lain yang telah ditulis orang sebelumnya. Tidak ada sebuah teks pun yang sungguh-sungguh mandiri, dalam arti penciptaannya dengan konsekuensi pembacanya juga, dilakukan tanpa sama sekali berhubungan teks lain yang dijadikan semacam contoh, teladan, kerangka, atau acuan (Teeuw, 2003: 145).


2.2  Tujuan Kajian Intertekstual
Tujuan kajian intertekstual itu sendiri adalah untuk memberikan makna secara lebih penuh terhadap karya tersebut. Penulisan sebuah karya sering ada kaitannya dengan unsur kesejarahannya sehingga pemberian makna akan lebih lengkap jika dikaitkan dengan unsur kesejarahan tersebut (Nurgiyantoro, 1998:15).
Frow (Hartyanto, 2008) mengemukakan interteks berdasarkan pada asumsi kritis. Asumsi tersebut adalah:
1) konsep interteks menuntut peneliti untuk memahami teks bukan hanya sebagai isi, melainkan aspek perbedaan sejarah teks;
2) teks tidak hanya struktur yang ada, tetapi satu sama lain juga saling memburu sehingga terjadi perulangan atau transformasi teks;
3) ketidakhadiran struktur teks dalam rentang teks yang lain, tetapi hadir juga dalam teks tertentu yang ditentukan oleh proses waktu;
4) bentuk kehadiran struktur teks merupakan rentangan dari yang eksplisit sampai implisit;
5) hubungan teks satu dengan teks yang lain boleh dalam rentang waktu lama, hubungan tersebut dapat secara abstrak dan juga sering terdapat penghilangan-penghilangan bagian tertentu;
6) pengaruh mediasi dalam interteks sering berpengaruh terhadap penghilangan gaya maupun norma-norma sastra;
7) dalam melakukan identifikasi interteks diperlukan proses interpretasi, dan pada pengaruh.eks berbngan melakukan kritik


3. Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian sastra yang disebut metode intertekstualitas (Jabrohim, 2001:87). Langkah-langkah dalam penelitian ini mengikuti metode kerja pendekatan intertekstual, yaitu dengan cara membandingkan, menjajarkan, dan mengkontraskan sebuah teks sastra dengan teks-teks lainnya.
Aspek yang akan diteliti dalam teks cerpen “Malin Kundang 2000” karya Irwansyah Budiar Putra dan “Malin Kundang Pulang Kampung” karya Achmad Muchlis Amrin dapat dilihat dalam tabel berikut.
Teks sumber
Sudut pandang analisis
Uraian/
analisis
Hasil analisis
cerpen
“Malin Kundang 2000” karya Irwan-syah Budiar Putra
Inter-
tekstual
Gambaran perbandingan struktur cerpen
“Malin Kundang 2000” dan teks legenda Malin Kundang.
Persamaan dan perbedaan struktur cerpen
“Malin Kundang 2000”dan teks legenda Malin Kundang.

4. Tinjauan terhadap Cerita Malin Kundang
Malin Kundang kita kenal sebagai seorang anak yang durhaka kepada ibunya. Ia tidak mengakui ibunya sehingga dikutuk menjadi batu. Cerita berawal dari keadaan Malin dan keluarga yang memprihatinkan. Dilanjutkan oleh keterangan bagaimana kehidupan Malin bersama ibunya sepeninggal ayahnya. Karena melihat kondisi keluarganya yang serba kekurangan, Malin tidak tega melihat ibunya banting tulang demi keluarganya sehingga ia bertekad untuk pergi berlayar dan merantau meninggalkan kampungnya. Malin Kundang bekerja di tengah lautan, ia dirampok oleh kawanan bajak laut yang membuat Malin terdampar di sebuah desa yang sangat subur karena ia satu-satunya orang yang selamat dari perampokan tersebut. Setelah lama tinggal di desa tersebut, karena keuletan dan kegigihannya, Malin menjadi orang yang kaya raya. Karena telah memiliki harta yang melimpah, Malin dan istrinya ingin berlayar mengarungi lautan sehingga tiba di kampung halamannya dahulu. Kemudian diceritakan bagaimana penantian ibu Malin akan kedatangan anaknya.
Setelah menjadi saudagar kaya raya,  Malin tak mau mengakui sang ibunda yang miskin papa. Berbohong pula ia pada istrinya, anak saudagar kaya nan terpandang, bahwa wanita tua tak berpunya di hadapannya bukanlah ibu yang mengandung dan mengasuhnya. Akhirnya, terkutuklah Malin menjadi batu beserta kapal dagang kebanggaannya. Dingin dan membatu diterpa ombak lautan sepanjang masa sebagai pelajaran bagi manusia.
Sosok Malin Kundang adalah sosok yang lupa diri akan asalnya. Ia tercerabut dari akarnya dan menjadi sosok sombong setelah mengalami perubahan status kelas sosial yang berbeda dengan sang Ibunda. Lupa diri si Malin merupakan contoh hilangnya kesadaran identitas dalam diri manusia. Kesadaran identitas adalah kesadaran individu yang utuh akan atribut-atribut  asal yang melekat pada dirinya. Bukan hanya nama, agama, dan alamat seperti di KTP, tetapi lebih dalam seorang individu sebagai manusia dan segala latar yang membentuk kehidupannya. Juga bukan hanya siapa diri kita, melainkan berlanjut ke pertanyaan apa dan bagaimana diri kita dengan segala atribut-atribut tadi. Apa itu manusia, agama, suku bangsa, dan negara, untuk apa eksistensinya sebagai manusi beragama, bersuku bangsa, dan bernegara, kemudian berlanjut hingga harus bagaimana manusia itu berperilaku sebagai seorang yang beragama, bersuku bangsa, dan bernegara.
5.Interteks Cerpen “Malin Kundang 2000” dan Cerita Malin Kundang
5.1 Interteks Alur Cerpen “Malin Kundang 2000” dan Cerita Malin  Kundang

a)      Persamaan
Cerpen “Malin Kundang 2000” karya Irwansyah Budiar Putra  dan cerita Malin Kundang sama-sama mengungkap masalah-masalah   pertentangan adat-istiadat berupa kutukan dan berkutat pada masalah kedaerahan. Seperti pada kutipan berikut.
“Penduduk pantai Air Manis tak henti-hentinya membicarakan batu yang selama ini mereka yakini sebagai Malin Kundang, anak  durhaka yang dikutuk ibunya (paragrap 4)
Cerpen “Malin Kundang 2000” ini merupakan respon dari cerita “Malin Kundang” dengan kata lain pengarang mengambil ide untuk  melanjutkan cerita “Malin Kundang” setelah dikutuk jadi batu kemudian  diceritakan batu Malin Kundang hilang dan kembali menjadi manusia.
Cerpen “Malin Kundang 2000”  memiliki persamaan alur cerita yaitu sama-sama menceritakan sikap Malin Kundang yang tetap angkuh, keras hati dan tinggi hati, dalam cerpen “Malin Kundang 2000” diceritakan batu Malin Kundang hilang dan kembali menjadi manusia, namun sikapnya tetap saja sama angkuhnya seperti pada cerita “Malin Kundang”. Malin tidak menunjukkan rasa bersalah, bahkan mengelak dari kesalahan-kesalahannya yang membuat ibunya sakit hati. Malin bahkan memberikan alasan-alasan kepada wartawan pada waktu dia menggelar jumpa pers, mengapa dia sampai tidak mengakui ibunya. Berikut cuplikan cerita ketika Malin  ditanya  wartawan.
“Seingatku, ibuku adalah perempuan muda yang berbadan kuat. Bukan nenek-nenek.”
“Bukankah umur manusia bertambah?” ( paragraf 19)
Keangkuhan Malin dalam cerpen “Malin Kundang 2000” tersebut, sama seperti dalam cerita Malin Kundang, Malin tidak mau mengakui ibu kandungnya bahkan tega menghina dan melukai hati ibunya.

b)     Perbedaan
Cerpen “Malin Kundang 2000” menyuguhkan sajian menarik atas cerita masa lampau, yang dengan sendirinya menimbulkan kualitas estetis. Selain itu, karya sastra ini merupakan arus kesinambungan sepanjang masa sebagai struktur yang dinamik. Cerpen “Malin Kundang 2000” memberi kejutan bahwa batu Malin Kundang hilang. Masyarakat tak henti-hentinya membicarakan batu Malin Kundang dan terkejut dengan berita Malin Kundang yang kembali jadi manusia. berikut adalah kutipannya.
”Lihat! Batu itu sudah tak ada” seseorang menunjuk.
”Batu apa?”
”Batu Malin Kundang!”
”Kemana hilangnya?”
”Segerombolan orang kota pasti sudah membawanya!” (paragraf  3).
Pada cerita Malin Kundang dikisahkan kehidupan Malin Kundang yang durhaka pada ibunya dan dikutuk menjadi batu. Jadi, cerita Malin Kundang adalah kisah kutukan anak durhaka menjadi batu, sedangkan cerpen “Malin Kundang 2000” dapat dikatakan sebagai respon kisah cerita Malin Kundang. Dalam hal ini, respon yang ditunjukkan adalah cerita lanjutan atas konsep cerita Malin Kundang.
Pada cerita Malin Kundangberakhir dengan kisah Malin Kundang dikutuk menjadi batu. Berikut kutipan ceritanya.
“Kapal besar Malin Kundang dihantam gelombang laut dan badai yang datang secara tiba-tiba. Ketika itu Malin Kundang sempat memanggil ibunya, namun kebesaran Tuhan telah datang, Malin Kundang si Anak Durhaka itu tenggelam bersama kapalnya dan terdampar di tepi Pantai Air Manis. Konon karena kutukan ibunya, saat itu pula Malin Kundang beserta istrinya berubah menjadi batu (paragraf:14).


5.2 Interteks Tokoh dan Perwatakan Cerpen “Malin Kundang 2000” dan Cerita Malin Kundang
Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita. Adapun cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu disebut dengan penokohan (Aminuddin, 1987: 79).
Rahmanto dan  Hariyanto (1998:2—13) menyatakan bahwa tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa dalam cerita, sedangkan penokohan atau perwatakan ialah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh di dalam karya sastra.
Perbedaan tokoh pada cerpen “Malin Kundang 2000” dan cerita Malin Kundang dapat dilihat pada tabel berikut.
No
Cerita “Malin Kundang”
Cerpen “Malin Kundang 2000”
1
Malin Kundang
Malin Kundang
2
Ibu Malin Kundang
Seorang ibu
3
Istri Malin
Wartawan
4
Bajak laut
Masyarakat Pantai Air Manis
5
Ayah Malin

6
Masyarakat desa

a) Tokoh Malin Kundang
Malin Kundang merupakan tokoh utama dalam cerpen “Malin Kundang 2000”, sama seperti pada cerita Malin Kundang.Tokoh Malin sama memiliki watak yang angkuh, keras hati, tinggi hati bahkan menjadi pendendam. Dia akan menuntut ibunya kelak di hadapan Tuhan, karena ibunya tega mengutuknya menjadi batu. Berikut kutipan ceritanya.
“tak ada yang salah dengan peribahasa itu, nak”
“ jika peribahasa itu benar, tentu ibuku tidak mengutuk ku, kan?
“ sulit menjelaskannya, nak”
“ aku akan menuntut ibuku” ( paragraf 15).

Pada cerita Malin Kundang jadi batu tokoh yang ditampilkan hanya terdapat tiga tokoh yaitu, Malin Kundang sebagai tokoh utama-antagonis, ibu Malin Kundang sebagai tokoh utama-protagonis dan istri Malin Kundang sebagai tokoh pendukung atau tambahan. Sedangkan dalam cerpen “Malin Kundang 2000” tokoh yang ditampilkan lebih banyak, yaitu Malin Kundang sebagai tokoh utama-antagonis, seorang ibu sebagai tokoh pendukung, penduduk pantai air manis sebagai tokoh pendukung, dan para wartawan sebagai tokoh tambahan.
b) Tokoh Seorang Ibu
Tokoh ibu pada cerpen “Malin Kundang 2000” merupakan seorang penduduk Pantai Air Manis yang sering berdialog dengan Malin Kundang dan sering menasihati anak-anaknya. Berikut kutipan ceritanya.
“Sang ibu tersenyum, “kutukan itu selalu tidak mengenakkan anakku”
“mengapa orang tua tega mengutuk anaknya”
“karena si anak terlalu membuat sakit hati”(paragrap 7)
Dengan demikian, berdasarkan kutipan-kutipan di atas, seorang ibu merupakan tokoh pendukung yang menggambarkan sebagian cerpen ini. Watak ibu yang keibuan membuat dia mampu merawat anak-anaknya dengan baik dan selalu mengingatkan anak-anaknya untuk tidak melawan orang tua.
5.3 Interteks Latar Cerpen “Malin Kundang 2000” dan Cerita Malin Kundang
Persamaan dan perbedaan latar yang terdapat pada Legenda Malin Kundang dengan cerpen “Malin Kundang 2000” dapat terlihat pada tabel di bawah ini.
No
Cerita “Malin Kundang”
Cerpen ”Malin Kundang 2000”
Latar Tempat
Latar Waktu
Latar Tempat
Latar Waktu
1
Pesisir pantai wilayah Sumatra
Semingu
Pantai Air Manis
Malam
2
Kapal
dua minggu
pinggir pantai
Pagi
3
Ruang kecil
sebulan
kota Padang
Sore
4
Tengah laut
dua bulan
Pulau pisang kecil
Jumat
5
Pantai
1 tahun lebih

Di awal tahun 2000
6
Desa



Pada legenda aslinya, latar tempat yang mendominasi adalah wilayah sekitar pesisir pantai. Perhatikan kutipan-kutipan berikut!
“Pada suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang . Karena kondisi ekonomi keluarga memprihatinkan, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri sebrang dengan mengarungi lautan yang luas”. (paragraf 1)
Latar tempat pada cerpen “Malin Kundang 2000” terdapat pada kutipan berikut.
“Penduduk Pantai Air Manis tak henti-hentinya membicarakan batu yang selama ini mereka yakini sebagai Malin Kundang, anak yang durhaka yang dikutuk ibunya”. (paragrap 4)
“Akan tetapi Malin Kundang sudah melenggang pergi dan tinggal di Pulau Pisang Kecil yang letaknya tidak jauh dari Pantai Air Manis,(paragrap:17)”
Latar waktu cerpen “Malin Kundang 2000” terdapat pada kutipan berikut.
Malam, angin puting beliung menyiutkan nyali. Halilintar menggelegar membuat badan menggigil…(paragraf:1)”
“Selesai shalat Jum’at di suatu hari di awal tahun 2000, bersama sepuluh orang lelaki berbadan gempal yang membantunya membuat kapal. Malin Kundang berlayar meninggalkan Pantai Air Manis(paragrap:18)”
5.4 Interteks Tema Cerpen “Malin Kundang 2000” dan Cerita Malin Kundang
Tema yang diusung pada cerpen “Malin Kundang 2000” yaitu  batu Malin Kundang yang dianggap sebagai Malin Kundang anak durhaka, hidup  kembali menjadi manusia. Dia berusaha menjelaskan alasan-alasan atau pembelaan diri atas anggapan-anggapan semua orang tentang dia selama ini yaitu dianggap sebagai anak durhaka. Selain itu, di balik kesombongan dan keangkuhan Malin Kundang ada hal-hal yang patut ditiru, yaitu kegigihan dalam bekerja, ulet, dan pantang menyerah.
6. Simpulan
a) Cerpen “Malin Kundang 2000”, merupakan bentuk transformasi dari cerita Malin Kundang.
b) Alur cerpen “Malin Kundang 2000” mengisahkan batu Malin Kundang yang menjadi manusia kembali. Dapat dikatakan cerpen itu merupakan kelanjutan atau perluasan dari cerita Malin Kundang.
c)  Tokoh cerita Malin Kundangberbeda dengan  cerpen “Malin Kundang 2000”.Tokoh-tokoh pada cerita  Malin Kundangadalah Malin Kundang, ibu Malin Kundang, istri Malin, bajak laut, ayah Malin, dan masyarakat desa. Tokoh-tokoh cerpen“Malin Kundang 2000”adalah Malin Kundang, seorang ibu, wartawan, dan masyarakat Pantai Air Manis.
d)  Latar cerpen “Malin Kundang 2000” diperluas dari cerita Malin Kundang
e)  Tema yang diusung pada cerpen “Malin Kundang 2000” dan cerita Malin Kundang mengetengahkan permasalahan hubungan anak dengan orang tua dan masalah kutukan. Namun, pengemasan setiap cerita sangat berbeda.
Daftar Pustaka
Culler, J. 1981. The Pursuit of Signs: Semiotics, Literarure, Deconstruction. Ithaca, New York: Cornell University Press.
Hartyanto, R.A. 2008. “Keperempuanan Tokoh Matsumi dalam Novel Perempuan Kembang Jepun Karya Lan Fang dan Tokoh Srintil dalam Novel Ronggeng Dukuh paruk Karya Ahmad Tohari: Kajian Intertekstual”. Diunduh dari http://kunthink.blogspot.com/2008/03/intertekstual-perempuan-kembang-jepun.html.  [15 Deswember 2011, pukul 19.00].
Jabrohim, dkk. 2001. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita Graha Widia.
Luxemburg, B. M., Westeinjn. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: PT Gramedia.
Nurgiyantoro, B. 1998. Transformasi Unsur Pewayangan dalam Fiksi Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada Universitas Press.
Nurgiyantoro, B. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada Universitas Press.
Pradopo, Rahmat Djoko. 2003. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rangkuti, Hamsad. 2007. ”Si Lugu dan Si Malin Kundang”. [Online]. Tersedia: http://www.sriti.com/story_view.php?key=2597.  [10 Desember 2011, pukul 20.00].
Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra: dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme Perspektif Wacana Naratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra.Jakarta: Gramedia.
Teeuw, A. 2003. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Bloge Wong Balot's - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger