li

produksi telur puyuh

Jumat, 10 Agustus 20120 komentar

eperti menjadi semacam kepercayaan, diantara beberapa peternak puyuh yang saya temui. Mengenai hal, terkait dengan jumlah produksi telur puyuh yang menyusut, dianggap disebabkan oleh karena pemilik ternak / peternak pikirannya sedang kusut. Benarkah.
Bisa jadi benar. Namun bisa juga tidak benar. Tentu pada kesimpulannya nanti tidak akan mencari benar atau salah. Sebab rasa-rasanya akan menjadi perdebatan yang menyangkut relativitas cara pandang masing-masing pemikiran.
Bisa jadi iya, alias anggapan tersebut benar. Jika yang menjadi landasan berpikir dan alasan adalah adanya hubungan batin, rasa kasih sayang antara pemilik ternak / peternak dengan burung puyuh piaraannya. Hubungan batin yang sedemikian kuat, terbentuk dari keakraban yang erat, yang mana pemilik tidak lagi menganggap burung puyuh sebagai sekedar mesin produksi keuntungan. Tetapi juga ada hubungan rasa, antara dua makhluk yang sama-sama mempunyai nyawa.
Rasanya memang tidak logis. Namun seringkali terjadi juga pada hewan piaraan yang lain. Hubungan kedekatan yang saling mempengaruhi. Oleh sebab itu karena peternak / pemilik ternak pikirannya sedang kusut, kuantitas produksi telur puyuh ikut menyusut.
Namun saya akan mencoba melihat dari sisi lain, terlepas sama sekali dari menyalahkan ataupun membenarkan anggapan seperti tersebut di atas.
Kebetulan, satu atau dua kali menemui teman peternak, menceritakan penurunan atau penyusutan jumlah produksi telur puyuhnya. Dan kebetulan juga, yang menjadi kambing hitam penyebab adalah pikirannya yang kusut. Sedang banyak dilanda masalah, ditambah berbagai persoalan datang menghimpit.
Akhirnya saya pikir, memang ada hubungannya. Namun sementara ini, hubungan tersebut akan saya coba analisa secara logis kritis.
Ketika pikiran peternak puyuh sedang kusut, dari yang saya temui tadi, lebih karena permasalahan himpitan ekonomi. Secara logikanya, dimana usaha ternak yang dimiliki, termasuk menjadi andalan penghasilan. Maka sadar tidak sadar, sengaja tidak sengaja, peternak akan menekan pengeluaran se-efektif mungkin, dengan harapan akan mendapat keuntungan sebesar mungkin.
Terkait dengan kebutuhan pakan puyuh, pikiran yang kusut menjadi dasar memperhemat kebutuhan pakan. Menekan pembelian pakan. Sehingga pemberian pakan untuk burung puyuh ditekan, dikurangi sebanyak mungkin, agar nantinya mendapat keuntungan sebesar mungkin.
Terlepas dari faktor-faktor selain kebutuhan pakan, yang menyebabkan penurunan jumlah produksi telur puyuh. Tindakan seperti itu malah lebih bisa mengakibatkan bukan keuntungan yang didapat. Tapi malah kebuntungan.
Jika sekedar produksinya yang susut, masih merupakan masalah level 1. Akan tetapi bagaimana jika yang terjadi adalah penurunan kondisi kesehatan burung puyuh piaraan. Bisa dimungkinkan umur produksi menjadi lebih pendek, bahkan kesehatan juga bisa terganggu, yang ujung-ujungnya menjadi sakit, oleh sebab kurangnya gizi / nutrisi.
Akan lain jika kusutnya pikiran tidak dalam masalah ekonomi. Apakah menjadi sebab produksi telur puyuh juga menyusut?
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Bloge Wong Balot's - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger